#7HARI TANTANGAN MENULIS : " CINTA MONYET "

google

Pagi ini masih sama seperti pagi pada minggu - minggu yang lalu, jadwal jogging masih rutin ku lakukan, udaranya masih bersih, polusi belum menyapa kota, kuhabiskan waktuku dengan berlari mengelilingi lapangan berumput hijau, lalu aku berhenti sejenak menyelonjorkan kaki, meneguk sebotol air mineral yang sedari tadi setia menempel dalam genggaman tanganku , lega rasanya kerongkonganku basah. Suasana semakin ramai berbagai macam usia berkumpul disini, juga tak kalah ramainya dengan pedagang penjaja makanan semuanya ada tinggal pilih menu yang mana untuk mengisi perut.

Berbagai orang hilir mudik, ada segerombolan anak-anak muda, balita, sepasang suami istri,  kakek, nenek berbagai macam orang menikmati pagi sambil berlari-lari , atau hanya duduk-duduk, ada juga yang sedang bersepeda dan kegiatan lainnya. Aku kelelahan biarlah sebentar saja aku mengistirahatkan tubuh sambil mengamati lingkungan sekitar di bawah pohon beralaskan rumput yang basah karena embun pagi  , lantas pandanganku tertuju pada dua bocah laki perempuan yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatku duduk. aku tertawa mengamati dua bocah tersebut , kira-kira usia mereka baru 12an mereka sedang lomba lari lalu saling kejar-kejaran tertawa riang seolah tanpa beban , aku teringat dengan masa kecilku dulu, di saat usiaku sama dengan mereka, setiap libur sekolah aku bersama temen sepermainan juga selalu jalan-jalan pagi, itu adalah kegiatan paling menyenangkan. Lalu kami saling bekejaran siapa yang kalah akan kena hukuman, dan akulah paling jarang kena hukuman , aku selalu menang untuk urusan berlari, walaupun aku bukan pelari. dan teman sepermainanku selalu kalah, atau mengalah demi aku ? ah entahlah yang jelas aku selalu menang.

Kemudian hukuman yang diterima adalah  temen sepermainanku membonceng aku kesekolah pergi dan pulangnya , melewati beberapa dusun lalu setelah sampai di pintu gerbang sekolah dasar tanpa komando temen-temen sekelas serentak menyoraki kami, seperti suara gembreng yang jatuh menggaduhkan keheningan lalu kita berdua merah tersipu-sipu , kembali setiap senin pagi teman sepermainanku selalu kalah saat olah raga minggu pagi jadi setiap senin pagi pasti aku di bonceng lagi, Aku tertawa puas karena sekalipun aku belum pernah kalah, bayangkan saja jika aku kalah lalu aku akan kena hukuman membonceng temanku yang tubuhnya lebih besar dari aku. Hingga akhirnya satu kelas menyebut kami "BKL"  di atas meja, di buku-buku, di papan tulis, setiap hari selalu ada nama ku BKL dengan namamu, aku yang malu-malu sedangkan kamu menanggapinya biasa aja seolah itu gurauan anak-anak satu kelas bahkan malah mendukungnya. Sebelkan rasanya.

Hingga sampai saat perpisahan kelas enam aku baru menyadarinya ternyata teman sepermainanku mengalah demi aku, setelah tahu itu , rasanya aku mulai membencinya kenapa kamu berpura-pura ? kenapa harus mengalah demi aku ? kenapa ? aku berteriak dengan penuh amarah di depan teman sepermainanku , lalu kamu tersenyum menanggapi sikapku yang emosi dan kecewa, dan berkata " aku tak tega kalau kamu kalah dan harus membonceng aku sejauh itu menuju sekolahan kita, biarlah aku saja yang selalu kalah untukmu ^&^&*&^*^&

Dan sejak saat itulah aku mulai mengenal suka suka dengan kamu, selalu nyaman bermain bersamamu, merasa punya pelindung dan semenjak lulus dari sekolah dasar, temen-temen yang seangkatan denganku masih menganggap kita "BKL" artinya Bakalan ( bahasa jawa ) kalo di bahasa indonesiakan artinya sama dengan pacaran bertunangan :) "heloo kawan kita masih berseragam putih biru dongker , sekolah aja dulu yang bener.
Ternyata memang bener , kamu memilih fokus  belajar demi meraih cita-cita masa depan lebih baik, dan aku fokus memperhatikanmu ahahaha. dan kamu bilang "perasaanmu itu semu " cinta monyet " masih esempe ga boleh pacaran ntar kalo kamu fokus ke pacaran belajarmu terganggu cita-citamu ga bakalan tercapai.

Kamu memang cerdas, dan pilihan mu tepat rasa suka saat masih anak-anak jika salah menafsirkan dan salah menyikapi bakalan terjadi hal-hal negatif yang dampaknya berefek dimasa depan. Nanti ada saatnya " BKL " itu terjadi , dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk belajar demi meraih cita-cita.

Aku tersadar dari lamunan panjangku tentang "Cinta Monyet" melamunkan dirimu yang entah bagaimana kabarmu sekarang ? ataukah sudah  BKL dan menikah atau bahkan sudah punya anak ? Karena semenjak kelas satu esema kita tak lagi sama, kamu pindah mengikuti orangtuamu. Jaman kita pisahan dulu Hp adalah barang langka jarang ada yang punya termasuk kita, jadi pantaslah kita kehilangan jejak kabar.Terakhir kabar yang ku dengar tentang kamu, sekarang kamu telah keterima menjadi Prajurit Negara dan bertugas di luar pulau.

Dan aku tersadar dari lamunan panjangku, dan kedua bocah tadi perlahan memudar, menghilang. Kuusap air mata yang tiba-tiba mengalir di pipi karena  menghalangi pandangan. lalu ku lanjutkan meneguk air mineral yang hampir habis isinya . Aku bangkit, lanjut berlari karena matahari semakin meninggi, masih banyak hal-hal yang harus ku kejar.

Kota, 11 Maret 2017
.

tulisan ini diikutsertakan pada  #hari(1) #basabasistore #7hari tantangan menulis diadakan oleh @Kampus Fiksi.


Related Posts
Previous
« Prev Post